Produk Terlaris 2015 :
Home » » Petik Mangga ala Minang

Petik Mangga ala Minang

Written By Cantik Citra on Saturday, 14 December 2013 | 10:18

Tempat pelepasan para pria hedonis bisa di mana saja. Kota Padang juga menyimpan oasis itu.

Kota Padang ternyata tidak hanya terkenal dengan kelezatan kulinernya. Bisnis pemuas dahaga pria pun semakin berkembang di ibu kota Sumatera Barat tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Ahmad, seorang kenalan, dalam sebuah obrolan sore yang menyenangkan.

Siang itu cuaca cukup terik di Padang. Kemudian datanglah sebuah pesan pendek dari seseorang yang mengajak membuat suasana menjadi lebih sejuk. “Bro, di mana? Cari yang adem-adem, yuk? Ada teman dari Jakarta juga, nih,” demikian bunyi pesan itu. Tanpa berpikir panjang, pesan tersebut pun dibalas dengan sigap.

Tak lama Anton, si pengirim SMS, pun menjemput. Dengan penuh semangat, ia bercerita ingin menjamu teman-temannya agar merasakan “kearifan” Kota Padang. “Mau diajak ke tempat biasa?” pertanyaan spontan itu terucap. “Ah, jangan, kemarin aku dapat info dari teman, katanya ada tempat baru, jauh lebih oke daripada yang biasanya,” ujar Anton bersemangat.

Memang sebenarnya di Kota Padang terdapat tempat yang terkenal sebagai lokasi pemuas dahaga pria. Kebanyakan tempat itu berkedok spa ataupun arena kebugaran penghilang rasa lelah.

Dengan menggunakan mobil milik Anton, kami pun menuju hotel berbintang empat yang berada di pusat kota. Sesampai di sana, Anton segera memberi tahu temannya bahwa kami telah sampai di lobi hotel.

Tak lama kemudian, dua pria menghampiri. Derry dan Ros, begitu mereka menyebut nama masing-masing. Ros adalah warga negara tetangga yang memang sedang bertugas di Indonesia. Adapun Derry menyatakan ingin merasakan “kearifan lokal” Kota Padang. Anton dengan cepat menanggapinya dengan menyodorkan tempat baru dengan pelayanan yang ciamik.

Tidak perlu waktu lama hingga kedua teman itu mengangguk dan setuju untuk segera pergi menuju tempat tersebut. Sebelum beranjak, Anton menawarkan naik kendaraan umum saja menuju tempat itu. Kami pun setuju, dan segera mengikuti langkah Anton.

Kami kemudian naik angkutan kota berbentuk minibus. Tidak sampai lima menit berselang, Anton meminta angkot berhenti, dan kami turun dengan jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari hotel tempat Derry dan Ros menginap.

Di seberang jalan tampak berdiri sebuah bangunan hotel yang bersih. “Lo, ini kan hotel? Katanya mau pijat?” pertanyaan pun langsung terlontar. “Tenang, spanya ada di dalam. Hotelnya baru, spanya juga baru, nih,” Anton menjelaskan.

Dari karakter bangunannya, hotel tersebut termasuk kelas bintang tiga. Warna cerah mendominasi bangunan dengan konsep minimalis itu. Dan memang bangunan ini sepertinya masih sangat baru, yang terlihat dari beberapa mobil saja yang terdapat di area parkir depan.

Anton pun mengajak kami memasuki hotel tersebut. Lobinya tampak bersih dengan warna putih yang mendominasi. Sang resepsionis terlihat bingung melihat empat lelaki yang baru masuk hanya berjalan melewatinya. Kami langsung menuju ke arah kolam renang, yang terletak di bangunan paling belakang.

Beberapa meter dari sisi kanan tampak bangunan yang menjadi tujuan perjalanan ini. Bentuknya kurang-lebih sama dengan kebanyakan arsitektur tempat spa. “Oke, petualangan dimulai. Jangan berebut, ya?” Anton berpesan.

Kami pun masuk dan langsung menuju meja resepsionis. Seorang pria lemah gemulai menyambut kami. Ia dengan fasih menerangkan semua bentuk pelayanan yang tersedia. Pelayanan dibagi dalam beberapa paket. Salah satu paket bernama Asmaragama, yang merupakan layanan andalan mereka. Dengan kompak, kami menyatakan ingin menikmati paket tersebut.

Pria itu lalu menghitung jumlah kami dan sedikit tertegun. “Aduh, terapisnya yang available cuma ada tiga, nih, gimana ?” ujarnya. Ia pun menjelaskan, para terapis sedang melayani tamu hotel sehingga saat itu tinggal tersisa tiga orang. Meski begitu, setelah berunding, akhirnya Derry, Ros, dan Anton yang akan menikmati terapi pijat.

Lalu pria berkepala agak plontos tersebut mengeluarkan foto-foto terapis yang tersedia. Dengan sigap ketiga teman itu pun mengambilnya satu per satu, kemudian diarahkan menuju ruangan yang telah disediakan. Tidak lama kemudian mereka menghilang dari pandangan.

Petik Mangga
Setelah sekitar 45 menit kemudian, Derry pun keluar dengan wajah semringah. “Wah, oke, sih, cuma mintanya agak mahal,” ujarnya. Menurut dia, fasilitas kamarnya terbilang nyaman. Sebuah tempat tidur untuk pijat terletak di tengah ruangan yang sejuk. Aromatherapy yang mengharumkan seluruh ruangan pun membuat kamar menjadi nyaman.

“Kurangnya cuma kamar mandinya di luar,” kata Derry. Namun ia menyebut hal itu wajar. Karena para pelanggan kebanyakan tamu hotel, fasilitas di tempat tersebut tidak terlalu dimaksimalkan.

Kemudian ia berbisik, di dinding kamar selembar kertas yang dilaminating ditempel. Isinya peraturan yang harus dipatuhi para terapis. “Sempat kaget juga, tapi untung aman,” ucap Derry. Salah satu peraturan itu, kata dia, berbunyi terapis tidak boleh terlihat pulang bersama tamu hotel.

Lalu ia bercerita mengenai terapis.

Terapis yang melayaninya bernama Nia, gadis asal Jambi yang merantau ke Padang karena menolak keinginan orang tua menjodohkannya. “Manis anaknya, ramah lagi, dan bisa mijat beneran,” katanya.

Menurut Derry, Nia sempat menawarkan paket lengkap dengan pelayanan tanpa pakaian. “Cuma, gila aja, masak dia minta sejuta?” tuturnya. Meski begitu, dia merasa cukup puas dengan pelayanan yang diberikan.

“Petik mangganya edan, pusing gue,” ujar Derry sembari terbahak. Ia mengatakan pijatan dalam ritual tersebut terasa seperti menggunakan bagian tubuh yang lain. Hal itulah yang tampaknya membuat Derry sangat puas.

Lalu muncullah Ros dan Anton, yang juga telah menyelesaikan aktivitas relaksasi mereka. Pertanyaan pun meluncur ditujukan kepada Ros, yang terlihat begitu semringah, “Gimana, Ros, oke?”. “Mantap,” ujarnya sembari mengacungkan jempolnya. Maklum saja, di negara Ros, hal seperti itu sulit dilakukan.

Sementara itu, Anton hanya tersenyum penuh arti. Kemudian, dengan senyum yang tersungging di bibir ketiga teman tersebut, kami pun beranjak meninggalkan tempat itu. Citra.

Bagikan CantikCitra.com: :

+ comments + 1 comments

26 April 2016 at 08:17

Heem...petik mangga kayak gitu ya...
kirain apaan min..hahha
Produk Moment

Post a Comment

 
Copyright © 2016. Cantik Citra - All Rights Reserved.
Proudly powered by Google