Produk Terlaris 2015 :
Home » » Kondom: Protect & Leisure?

Kondom: Protect & Leisure?

Written By Cantik Citra on Sunday, 15 December 2013 | 05:27

Gaya hidup hedonis masa kini tak lepas dari sexual lifestyle, termasuk di dalamnya perilaku seksual. Kehidupan hedonis yang memprioritaskan kesenangan dan kenikmatan semata memang tak mudah ditampik. Fenomena sexual lifestyle seperti one night stand, living together, swing, threesome, orgy, dan gang bang semakin marak terjadi, baik di kota besar maupun kota kecil. Mulai orang dewasa hingga siswa-siswi sekolah menengah pertama pun sudah berani mempraktekkannya.

Kebanyakan pria lajang dengan aktivitas sexual lifestyle seperti itu mengakui penggunaan kondom sangat mempengaruhi kenikmatan bercinta. “Rasanya lengket dan longgar,” ujar Fidel - 33 tahun.

Ia bersama sang kekasih yang tinggal satu atap awalnya rajin menggunakan kondom. Bahkan kekasihnya menyatakan lebih enak memakai kondom karena membantu melumas organ intimnya.

Namun lama-kelamaan, dengan intensitas bercinta yang sering, hampir setiap hari, keduanya merasa kondom merepotkan dan dapat memotong momen bercinta.

Dulu kondom digunakan kebanyakan untuk Keluarga Berencana.
Kini tampaknya telah terjadi pergeseran fungsi kondom, yakni untuk membentengi diri dari penyakit menular seksual.

Saya bisa hilang feeling kalau momen yang sudah terbangun jadi terganggu karena saya harus buka bungkus kondom, lalu memakainya. Walau memang hanya sebentar, cukup bikin saya turn off,” ujar Fidel blak-blakan.

Ia juga cukup berani mengambil risiko jika sang kekasih hamil akibat tidak memakai kondom. “Ya, kalau hamil, nanti tinggal dinikahi saja. Kalau penyakit menular seksual, saya tidak takut, karena saya setia sama pasangan,” Fidel melanjutkan.

Dengan sexual lifestyle berisiko tinggi seperti itu, penggunaan kondom seyogianya mutlak diperlukan. Adapun kesadaran orang Indonesia menggunakan kondom tampaknya masih rendah.

Hampir 80 persen penularan HIV berasal dari hubungan seks tidak aman. Angka ini menunjukkan masih kurangnya penggunaan kondom di kalangan lelaki berisiko tinggi. Padahal kondom tidak hanya melindungi diri sendiri dari infeksi HIV, tapi juga melindungi orang lain, khususnya pasangan. Jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV dari suaminya meningkat dari tahun ke tahun,” kata Dr Kemal Siregar selaku Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN).

Angka Rendah
Data DKT Indonesia yang berafiliasi dengan DKT International, organisasi yang mempromosikan Keluarga Berencana dan penanggulangan HIV/AIDS melalui social marketing menunjukkan, pada pertengahan 1990-an, angka penggunaan kondom di Indonesia masih sangat rendah. Saat itu krisis ekonomi melanda Asia Tenggara. Pada 1996, DKT, yang berkantor pusat di Washington, DC, Amerika Serikat, didirikan di Indonesia guna mengkampanyekan kesadaran akan pentingnya penggunaan kondom.

Sebelumnya, angka pemasaran kondom di Indonesia hanya 20 juta per tahun. Lalu mulai kurun 1996-2011 mencapai angka 200 juta kondom.

Data tersebut diperoleh dari KPAN dan DKT Indonesia. Namun ternyata, dibanding total populasi penduduk Indonesia, angka tersebut masih jauh dari harapan. “Distribusi dan penggunaan kondom di Indonesia masih jauh jika dibandingkan dengan total populasi negeri ini,” ujar Todd Callahan, Country Director DKT Indonesia.

Sebagai perbandingan, negara lain seperti Brasil, dengan angka kehamilan yang tidak diinginkan dan penyakit menular seksual pada pasangan berpenghasilan rendah yang tinggi, berdasarkan data DKT Brasil, pada 1991 pasar kondomnya kurang dari 50 juta. Pada 2006, jumlah itu meningkat menjadi 500 juta kondom, dengan 230 juta kondom dari pemerintah. Di negara terbesar dan terpadat di Amerika Latin itu, melalui DKT Brasil, tahun lalu terjual 130 juta kondom, yang berarti mengalami kenaikan 13 persen dibanding tahun sebelumnya.

Walaupun statistik menunjukkan, penggunaan kondom di Indonesia masih sangat rendah, di lapangan rupanya sudah cukup banyak pria yang “sadar kondom”.

Misalnya, Dandy—nama samaran. Pria lajang berusia 28 tahun itu mengaku sexual active dan tidak pernah lupa memakai kondom saat berhubungan seks.

Saya selalu memakai kondom karena penting untuk kesehatan dan mencegah penyebaran penyakit. Justru saya belum pernah tidak pakai kondom. Jadi saya tidak tahu seperti apa rasanya jika tidak pakai, dan saya tidak mau coba-coba,” kata pria yang dalam sebulan setidaknya beraktivitas seksual 4-5 kali dan tidak melulu dengan pasangan tetapnya itu.

Sementara itu, Arifin, 42 tahun, pria lajang yang berprofesi di bidang kreatif freelance, secara terang-terangan mengaku sexual active, dan soal memakai kondom atau tidak, bergantung pada kesepakatan dengan pasangan.

Pakai kondom atau tidak tergantung kesepakatan dengan pacar. Uniknya, sering di tengah percintaan, pacar malah minta lepas kondom, katanya berasa panas,” ujarnya.

Arifin menyambung, “Pakai atau tidak, tentu jelas bedanya, dan memang keberadaan kondom sejak awal dibuat disturbing laku persetubuhan.Citra.

Bagikan CantikCitra.com: :

Post a Comment

 
Copyright © 2016. Cantik Citra - All Rights Reserved.
Proudly powered by Google