Produk Terlaris 2015 :
Home » » Kedamaian di Auckland

Kedamaian di Auckland

Written By Cantik Citra on Tuesday, 17 December 2013 | 05:50

Bekas Ibu kota Selandia Baru ini memang sepi. Sedikit membosankan. Tapi tetap ada banyak hal menarik yang bisa dinikmati di sini. Sepi. Begitu kira-kira pendapat saya sewaktu menginjakkan kaki di Auckland, bekas ibu kota Selandia Baru. Saya langsung berpikir bakal mati kebosanan saat harus tinggal di kota ini barang seminggu saja.

Bandara di kota ini juga lengang. Padahal, di kota mana saja, bandara biasanya selalu ramai orang. Di jalanan juga tak banyak kendaraan berlalulalang. Nyaris mustahil mendengar bunyi klakson saat melintasi jalanan di Auckland.

Saya lantas mencoba mampir ke salah satu pusat belanja, dan ternyata sama saja. Nyenyat. Tidak banyak orang hilir-mudik melihat-lihat barang yang dipamerkan.

Saya sempat terheran-heran. Pemandangan ini jelas berbeda dengan mal-mal di Jakarta, yang selalu penuh pengunjung.

Bila dibanding Jakarta, penduduk Auckland memang tidak ada apa-apanya. Populasi di Jakarta saat ini sudah lebih dari 10 juta. Sedangkan penduduk Auckland hanya sepersepuluhnya saja. Satu juta orang.

Saya jadi maklum mengapa salah satu kota terbaik untuk ditinggali ini sepi. “La, wong yang tinggal sedikit banget,” ujar rekan saya.

Meski sepi dan membosankan, kota terbesar di Selandia Baru ini sebenarnya menyimpan pesona luar biasa. Terutama bagi wisatawan berkantong tebal.

Bukan cuma pemandangannya yang fantastis, Auckland ternyata juga surga bagi para shopaholic dan pencinta kuliner. Mau berbelanja karya-karya desainer kelas atas atau kelas kaki lima, Anda tinggal pilih. Untuk memanjakan perut, ada banyak kafe dan restoran. Namun jangan samakan dengan Jakarta, ya.

Tempat makan di kota ini rata-rata tutup pukul 20.00 waktu setempat. Jadi, kalau ingin makan malam, datanglah pukul 18.00 waktu setempat.

Kalau ingin melanjutkan hanging out, ada beberapa bar di pusat kota, seperti di Wynyard Quarter, Viaduct Harbour, dan Britomart. Tapi bar-bar ini bakal tutup pada pukul 01.00 waktu setempat. Pengunjung bar di Auckland juga tidak ramai. Dalam satu malam, paling-paling hanya sepuluh orang.

Menurut seorang pelayan bar, pengunjungnya biasanya itu-itu saja. “Orang yang datang ke sini biasanya sudah kenal satu sama lain,” katanya.

Makan di Auckland juga relatif mahal. Untuk sekali makan di restoran biasa, kita harus merogoh kocek hingga Rp 200 ribu. Bayangkan jika kita ingin makan di restoran mewah, tentu lebih mahal.

Untuk berkeliling kota, ada bus dan taksi yang bisa dijadikan pilihan. Taksi memang lebih nyaman, tapi ongkosnya jauh lebih mahal. Untuk perjalanan selama sekitar 45 menit, tarifnya bisa mencapai 90 NZD atau Rp 800 ribuan.

Kalau mau lebih murah, silakan naik bus. Sangat nyaman meski kadang Anda harus mengkombinasikannya dengan berjalan kaki, karena bus di Auckland tidak berhenti sembarangan. Namun ongkos yang bisa dihemat lumayan, kok.

Pilihan lainnya adalah menyewa mobil. Ini cara paling menyenangkan untuk berjalan-jalan menikmati Kota Auckland. Apalagi mobil di Auckland juga menggunakan setir kanan seperti di Indonesia. Jaminannya cuma kartu kredit. Tapi, kalau tidak punya, Anda diwajibkan membayar uang jaminan. Anda juga wajib memiliki SIM internasional.

Aturan berlalu lintasnya jauh lebih ketat dibanding Indonesia, jadi pastikan semua syarat terpenuhi. Seperti surat bukti kelaikan kendaraan yang masih berlaku. Di Auckland, semua mobil harus lulus pemeriksaan mekanik setiap enam bulan. Wah-wah!

Menyepi
Auckland memang bukan tempat bagi pencari hingar-bingar. Tempat ini cocok untuk menyepi sambil menikmati keindahan alam. Mencari kedamaian.

Satu yang tak boleh terlewatkan adalah pantainya yang cantik-cantik, mulai West Coast yang asyik untuk berselancar hingga Teluk Hauraki yang tenang. Laut dan segala daya tariknya membuat Auckland dijuluki Kota Layar (City of Sails).

Kalau ingin mencari suasana lain, silakan menuju pantai timur Semenanjung Coromandel, yang berjarak sekitar 175 kilometer dari pusat Kota Auckland. Ada pantai bernama Hot Water Beach. Untuk menikmati airnya yang hangat, Anda tinggal menggali lubang di pasirnya. Dan air hangat akan memenuhi “kolam” Anda. Mari menikmati spa alami buatan sendiri.

Pantai ini juga menjadi favorit peselancar karena memiliki gelombang yang tinggi dari sebelah timur. Sayang, pantai ini tak aman untuk berenang.

Bila ingin menjelajahi pulau, silakan ke Hauraki Gulf, terutama Waiheke Island. Hanya 40 menit naik feri dari pusat Kota Auckland, dan kita akan disuguhi hijaunya kebun anggur dan kebun zaitun. Atau hutan dan pantai khas Selandia Baru.

Sebanyak 48 kawah gunung berapi yang tersebar di sekitar Auckland juga menjadi tempat sempurna untuk piknik. Jangan lupa mampir ke Rangitoto Island, gunung berapi paling khas di Auckland. Hanya 25 menit naik feri dari Auckland, kok.

Jika ingin memacu adrenalin, berkunjunglah ke Sky Tower. Kita bisa melompat dari atas gedung tertinggi di Selandia Baru ini. Benar-benar menegangkan. Citra.

Bagikan CantikCitra.com: :

Post a Comment

 
Copyright © 2016. Cantik Citra - All Rights Reserved.
Proudly powered by Google